April 22, 2013

Lingkungan-Lingkungan Pendidikan


1.      KONSEP LINGKUNGAN DAN LINGKUNGAN PENDIDIKAN
Sebagai makhluk sosial, manusia akan selalu berinteraksi baik dengan yang hidup biotik maupun abiotik, karena sudah menjadi hukum alam, bahwa keberadaan manusia tidak akan pernah lepas dengan makhluk hidup lainnya.  Segala sesuatu yang berada di sekeliling manusia di sebut lingkungan. Dengan demikian yang tergolong pada lingkungan adalah semua makhluk hidup yang berada di seluruh jagat raya alam ini, yang mempengaruhi perilaku, pertumbuhan, dan perkembangan proses kehidupan manusia, termasuk pada kegiatan pendidikan
           Lingkungan pendidikan merupakan suatu keadaan atau berupa tempat yang memungkinkan terjadinya proses pendidikan, Karena pendidikan merupakan interaksi antar manusia, maka yang dimaksud dengan lingkungan pendidikan adalah suatu tempat dimana memungkinkan terjadinya suatu interaksi manusia dalam proses pendidikan dan untuk mencapai tujuan pendidikan itu sendiri. Sistem pendidikan tergolong pada sistem sosial yang bersifat terbuka, karena senantiasa menerima pengaruh dari lingkungan (input), dan memberikan pengaruh pula terhadap lingkungan dalam bentuk output.
Pada pasal 1 ayat (3) Undang-Undang No 20 tahun 2003, menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan sistem pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Sistem pendidikan nasional dibangun dan dikembangkan melalui satuan pendidikan. Satuan pendidikan merupakan kelompok layanan pendidikan yang menyelenggrakan pendidikan pada jalur formal, non formal dan informal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan (pasal 1 ayat 10).
Berdasarkan uraian tersebut dapat dijelaskan bahwa penyelenggaraan pendiidkan nasional secara sistematik memiliki tiga jalur pendidikan, meliput jalur pendidikan formal, jalur pendidikan non formal, dan jalur pendidikan informal.
Berikut penjelasan pasal dan ayat yang menerangkan pasal 1 ayat (10), antara lain ;
Pasal 1 (11), berbunyi : “Pendidikan formal  adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.”
Pasal 1 ayat (12), berbunyi ; “Pendidikan non formal adalah jalur pendidikan diluar jalur pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.”
Pasal 1 ayat (13), berbunyi ; “Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.”
Dalam sistem pendidikan nasional ketiga jenis lingkungan pendidikan tersebut bermuara pada sebuah tujuan nasional yang sama yakni “dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil, dan makmur serta memungkinkan para warganya mengembangkan diri baik berkenaan dengan aspek jasmaniah maupun rohaniah berdasarkan pancasila dan undang-undangan dasar 1945.”
Ki Hajar Dewantara mengungkapkan jenis lingkungan pendidikan yang disebut Tri Pusat Pendidikan yaitu alam keluarga, alam perguruan, dan alam pemuda. Berdasarkan tripusat pendidikan itulah muncul konsep : Pendidikan informal (dalam keluarga), pendidikan formal (disekolah), dan pendidikan non formal (di masyarakat).
Pendidikan yang terjadi  di lingkunan keluarga bersifat alamiah dan wajar, tidak ada aturan yang mengikat karena itu disebut dengan pendidikan infromal. Sedangkan pendidikan yang berlangsung pada lingkungan sekolah, adalah pendidikan yang dirancang sedemikian rupa secara berencana, dilaksanakan dengan berbagai aturan yang ketat, berjenjang , seleksi peserta didiknya ketat, begitupun dengan seleksi pendidiknya juga ketat, dan kegiatannya berlangsung secara berkesinambungan, sehingga disebut dengan lingkungan pendidikan formal. Adapun pendidikan yang berlangsung di lingkungan masyarakat diprogramkan dengan aturan-aturan yang fleksibel, dan lebih lonngar dibandingkan dengan pendidikan sekolah, tidak selalu di isyaratkan berjenjang dan berkesinambungan, sehingga di sebut dengan pendidikan non formal.
2.    KELUARGA SEBAGAI LINGKUNGAN PENDIDIKAN
Secara etimolois kata keluarga berasal dari kata kawula dan warga. Kawula berarti hamba dan warga yaitu anggota. Jadi penggertian keluarga adalah suatu kesatuan (unit) dimana anggota-anggotanya mengabdikan diri kepada kepentingan dan tujuan unit tersebut.
           Keluarga merupakan lingkungan yang pertama bagi anak yang memberikan sumbangan bagi perkembangan dan pertumbuhan mental maupun fisik anak dalam kehidupannya. Melalui interaksi dalam keluarga, anak tidak hanya mengidentifikasikan diri dengan orang tuanya, melainkan jua  mengidentifikasikan diri dengan kehidupan masyarakat dan alam sekitarnya.. Menurut Ki Hajar Dewantara (1962) alam keluarga merupakan pusat pendidikan yang pertama dan terpenting.
Keluarga berfungsi untuk membekali setiap anggota keluarganya agar dapat hidup sesuai dengan tuntunan nilai-nilai religius, pribadi, dan lingkungan. M.I. Soeleman (1978) mengemukakan beberapa fungsi keluarga sebagai berikut :
Fungsi ini mengarahkan keluarga sebagai wahana pendidikan pertama dan utama bagi anka-anaknya agar dapat  menjadi manusia yang sehat, tangguh, maju, dan mandiri, sesuai dengan tuntunan kebutuhan pembangunan yang semakin tinggi. Keluarga merupakan lingkungan ynag pertama bagi anak dimana tanggungjawabnya dipikul oleh orangtua sebagai salah satu unsur tri pusat pendidikan. Orang tua harus dapat menciptakan situasi pendidikan yang dihayati anak didik sebagai iklim pendiidkan dengan memberi contoh teladan disertai dengan fasilitas yang memadai.
Dalam fungsi ini anak menunjukan bahwa keluarga memiliki tugas untuk mengantarkan dan membingbing anak agar dapat beradaptasi dengan kehidupan sosial (masyarakat) yang lebih luas, sehingga kehadirannya akan diterima bahkan mungkin dinantikan oleh masyarakat luas, karena banyak  memiliki manfaat bagi orang lain yang ada di lingkungan masyarakat.
Fungsi ini mengarahkan dan mendorong keluarga agar berfungsi sebagai wahana atau tempat memperoleh rasa aman, nyaman,  damai, dan tentram bagi seluruh anggota keluarga sehingga terpenuhi kebahagiaan batin, juga secara fisik keluarga harus melindungi anggota keluarganya supaya tidak kelaparan, kehausan, kedinginan, kepanasa, kesakitan, dan lain-lain.
Fungsi ini diarahkan untuk mendorong keluarga sebagai wahana untuk menumbuhkan dan membina rasa cinta dan kasih sayang antara sesama anggota keluarga dan masyarakat serta lingkungannya. Fungsi afeksi diwarnai oleh kasih sayang serta kehnagatan yang terpancar dari keseluruhan gerakan, ucapan, mimik serta perbuatan. Dalam pelaksanaan fungsi perasaan, yang terpenting ialah bahasa yang diiringi mimik yang serasi serta seirama yang ssenada. Fungsi afeksi tersebut dicurahkan dari orangtuanya  melalui interaksi kasih sayang dan kehangatan sehingga memberi suasansa keluarga yang harmonis karena saling memberi kasih sayang di antara anggotanya.
Fungsi ini diarahkan untuk mendorong keluarga sebagai wahana pembangunan insan-insan yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, bermoral, berakhlak, dan berbudi pekerti luhur sesuai dengan ajaran agamanya.
Fungsi ini diarahkan untuk mendorong keluarga sebagai wahana pemenuhan kebutuhan ekonomi, fisik dan materiil yang sekaligus mendidik keluara hidup efisien, ekonomis, dan rasional. Fungsi ekonomi meliputi pencarian nafkah, perencanaan, serta penggunaaan atau pembelajarannya. Pelaksanaan fungsi ekonomi oleh seluruh anggota keluarga mempunyai kemungkinan menambah saling pengertian, solidaritas dan tanggung jwab bersama dalam keluarga.
Dalam menjalankan fungsi ini, keluarga harus menajdi lingkungan yang nyaman, menyenangkan, cerah, ceria hangat dan penuh semangat. Keadaan ini dapat dibangun melalui kerjasama dianatara anggota keluarga yang diwarnai oleh hubungan insani yang di dasari oleh adanya saling mempercayai, saling menghormati dan mengagumi, saling mengerti dan memahami adanya “Take and Give”.
Fungsi ini diarahkan untuk mendorong keluarga sebagai wahana menyalurkan kebutuhan reproduksi sehat bagi semua naggota keluarganya. Keluarga disini menjadi tempat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar seperti kebutuhan akan keterlindungan kebutuhan fisik seperti kesehatan, pangan, sandang dan papan dengan syarat-syarat tertentu sehingga keluarga memungkinkan seluruh anggotanya dapat hidup  di dalamnya, sekurang-kurangnya dapat mempertahankan hidup. Disamping itu fungsi biologis keluarga berhubungan dengan pemenuhan biologis keluarga diantaranya adalah kebutuhan seksual yang sering berjalan dengan keinginan unuk memperoleh keturunan, dalam rangka melahirkan generasi yang lebih baik di masa yang akan datang.
2.3. Perubahan Fungsi Keluarga
Pada masyarakat yang sudah maju fungsi keluarga telah mengaami perubahan dibandingkan dengan masyarakat yang tradisional. Teradapat beberapa ciri kehidupan pada masyarakat tradisional yang dikemukan oleh schoorl (1980), dengan menyebutnya masyarakat primitif,diantaranya :
a.       Masyarakat tersebut agak rendah perkembangan pengetahuan dan teknolonginya, sehingga tingkat prosuksinya agak rendah dan tidak banyak sisa bahan makanan. Bentuk ekonomi mereka adalah berburu, menangkap ikan, dan mengumpulkan bahan makanan.
b.      Masyarakat tersebut cukup kecil, antara beberapa puluh atau beberapa ratus jiwa. Kelompok kecil itu meruppakan kelompok pergaulan yang cukup dapat memenuhi kebutuhannya sendiri.
c.       Belum banyak pembagian kerja dan spesialisasi. Pembagian kerja biasanya menurut garis perbedaan seks dan umur. Semua orang laki-laki atau  perempuan dari golongan  umur tertentu mempunyai peranan sama dan melakukan pekerjaan sama.
d.      Masih tidak banyak diferensiasi kemasyarakatan atau kelembagaan. Belum ada lembaga khusus diperuntukkan bagi kegiatan tertentu. Misalnya kekerabatan memiliki fungsi plural seperti urusan perkawinan, hukum, pertanian, rekreasi, upacara, keagamaan, dan sebagianya.
e.       Tidak banyak heterogenitas dalam hal kebudayaan. Masyarakat tersebut kebudayaannya sangat homogen kalaupun terdapat sub kelompok dengan sub kebudayaan, biasanaya berdasarkan pemisahan diantara pria dan wanita, dan atas dasar perbedaan umur.
Pada masyarakat tradisional struktur sosial belum begitu kompleks sehingga wawasan anak sebagian besar masih terbatas pada keluarga. Pada masyarakat ini keluarga memiliki pengarush yang sangat besar terhadap kehidupan masa depan anak. Anak merupakan bagian dari keluarga dalam memenuhi kebutuhan sehari0hari, dimana semua anggota keluarga dalam masyarakat tradisional secara bersama-sama bekerja untuk menghasilkan barang-barang kebutuhan keluarga, seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Jadi pada masyarakat tradisional orang tua memiliki tanggung jawab penuh terhadap pendiidkan anak mereka. Pada masyarakat tradisional orang tua mengajar pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup, orang tua pula yang melatih dan memberi petunjuk anak-anaknya sampai anak-anak mencapai dewasa. Orangtua merupakan sumber pengetahuan dan keterampilan yang diwariskan atau diajarkan kepada mereka. Dalam keluarga tradisional orang tua mencegang otoritas penuh atas anak-anak mereka.
Dengan berubahnya kehidupan masyarakat tradisional ke masyarakat modern, yang diawali dengan tumbuh dan berkembangnya industri di Eropa. Serta mobilitas sosial dalam masyarakat (Vertikal maupun horizontal) yang tinggi, maka pola kehidupan keluarga pada masyarakat modern itupun mengalami perubahan. Pada masyarakat modern anggota keluarga cenderung lebih kecil, memiliki struktur yang kyrang stabil, lebih demokratis dalam  dalam mengambil keputusan, amat tergantung kepada jasa pelayanan orang lain, dan kehidupan yang terdiferensiasi serta terspesialisasi yang makin jelas dan tajam.
Dalam masyarakat modern  orangtua harus membagi otoritas dengan orang lain, terutama guru dan dengan anak mereka sendiri yang memperoleh pengetahuan baru dari luar keluarga. Hubungan orangtuapun berubah dari hubungan orangtua dengan anak yang bersifat otoritatif menjadi huubungan orangtua dengan anak yang bersifat kolegial. Dalam keluarga modern lebih dapat ditumbuhkan perasaan aman, saling menyayangi antara anggota keluaraga. Dalam keluarga ini lebih dapat ditumbuhkan sifat demokratis pada diri anak , sebab keputusan yang diambil selalu dibicarakan bersama oleh seluruh keluaraga (Soleh Soefiyanto, 1994).
Dalam kaitannya dengan pendidikan, dengan gambaran kehidupan keluarga dan masyarakat seperti di atas, maka pendidikan yang pada mulanya merupakan tanggungjawab keluarga  sepenuhnya, sekarang diambil alih oleh sekolah dan lembaga-lembaga sosial lainnya Tugas Ibu dalam membingbing dan mendidik anaknya pada tahap awal sudah di ambil “Baby sister”, “Kelopok bermain dan taman kanak-kanak”.
2.4. Keluarga sebagai Lingkungan Pendidikan.
Awal kehidupan seseorang dimulai  dengan lingkungan keluarga, bahkan dalam keluarga pula pada umumnya seseorang mengakhiri kehidupannya. Sejak mulai lahir dari bayi, anakanak, dan tumbuh dewasa tidak terlepas dari kehidupan keluarganya yang terus menerus berputar sampai terbentuk dan terbina sebuah keluarga kembali. Dalam keluarga terjadi apa yang dinamakan interaksi antar anggota keluarga, interaksi tersebut dapat terjadi antara suami (ayah) dengan istri (ibu). Suami (ayah) dengan anak. Istri (ibu) dengan anak, anak dengan anak, bukan terjadi pula interaksi antara keluarga satu dengan keluarga lainnya. Dalam interaksi itu terjadi proses belajar, pembinaan, bimbingan atau proses pendidikan.
Lingkungan keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama, berlangsung secara wajar dan informal, serta dalam pelaksanaanya lebih dominan pada permainan. Keluarga merupakan dunia anak yang pertama yang memberikan sumbangan mental dan fisik terhadapnya. Dalam keluarga anak lambat laun membentuk konsepsi tentang pribadinya baik tepat maupun kurang tepat.Orang tua sebagai pendidik merupakan peletak dasar kepribadian anak. Dasar kepribadian tersebut akan bermanfaat dan berpengaruh terhadap kehidupan anak selanjutnya.
Menurut Ki Hajar Dewantara (1962), Kepentingan keluarga sebagi pusat pendidikan yang tidak hanya disebabkan adanya kesempatan yang sebaik-baiknya untuk melaksanakan pendidikan secara individual dan sosial (kebudayaan), namun karena ibu dan ayah dapat menanam segala benih kejiwaan (kebatinan) sesuai dengan benih-benih kejiwaan yang tumbuh dan berkembang dalam diri anak.
Keluarga merupakan tempat yang subur dan yang paling efektif bagi pendidikan watak dan budi pekerti anak. Seperti kejujuran, keadilan, keberanian, ketenangan, dan lain sebagainya.
Oleh karena itu keluarga tidak hanya memberikan pendidikan watak dan budi pekerti saja namun juga pendidikan sosial masyarakat.
Melalui pendidikan dalam keluarga, anak bukan saja diharapkan agar menjadi suatu pribadi yang mantap, yang secara mandiri dapat melaksanakan tugas hidupnya dengan baik, melainkan juga diharapkan kelak dapat menjadi anggota masyarakat yang baik.
2.5. Peran Anggota Keluarga Dalam Pendidikan Anak
Pada umumnya peranan seseorang itu berkaitan dengan harapan-harapan masyarakat atau orang lain yang sesuai dengan status dan kedudukannya. Mengenai peranan-peranan anggota-anggota keluarga dalam pendidikan anak dapat diuraikan sebagai berikut:
2.5.1.               Peran Ayah Dalam Keluarga
B.Simanjuntak dan I.I. Pasanibu menyatakan bahwa peran ayah itu adalah (1) surnber kekuasaan sebagai dasar identifikasi, (2) penghubung dunia luar, (3) pelindung ancaman dunia luar dan (4) pendidik segi rasional.
B. Simanjuntak, II Pasaribu, 1981, p.110). Sikun Pribadi membagi peran ayah menjadi (1) pemimpin keluarga, (2) sex poster, (3) pencari nafkah, (4) pendidik anak-anak, (5) tokoh identifikasi anak, (6) pembantu pengurus rumah tangga.
Maka dari kedua pendapat tersebiut dapat di simpulkan bahwa ayah sebagai pemimpin dalam keluarga disebut juga kepala keluarga atau kepala rumah tangga. Oleh karena itu ayah memegang kekuasaan di dalam keluarga. Ayah berperan sebagai pengendali jalannya rumah tangga dalam keluaga. Sebagai pemimpin keluarga orang tua wajib mempunyai pedoman hidup yang mantap, agar jalannya rumah tangga dapat berjalan dengan lancar menuju tujuan yang telah dicita-citakan. Secara psikologis diketahui pedoman hidup yang mantap dan kuat merupakan salah satu ciri maskulinitas dalam suatu “Aku” yang kuat, yang mampu melihat dan menghadapi segala jenis kenyataan hidup duniawi.
·         Ayah sebagai sex partner : 
Ayah merupakan sex partner yang Setia bagi istrinya. Sebagai sex partner, seorang ayah harus dapat melaksanakan peran ini dengan diliputi oleh rasa cinta kasih yang mendalam. Seorang ayah harus mampu mencintai istrinya dan jangan selalu minta dicintai oleh istrinya.
·         Ayah sebagai pencari nafkah :
Tugas ayah sebagai pencari nafkah merupakan tugas yang sangat penting dalam keluarga. Penghasilan yang cukup dalam keluarga mempunyai dampak yang baik sekali dalam keluarga. Penghasilan yang kurang cukup menyebabkan kehidupan keluarga yang kurang lancar. Lemah kuatnya ekonomi tergantung pada penghasilan ayah. Sebab segala segi kehidupan dalam keluarga perlu biaya untuk sandang, pangan, perumahan, pendidikan dan pengobatan. Untuk seorang ayah harus mempunyai pekerjaan yang basilnya dapat dipergunakan untuk mencukupi kebutuhan keluarga.
·         Ayah sebagai pendidik :
Peran ayah sebagai pendidik merupakan peran yang penting. Sebab peran ini menyangkut perkembangan peran dan pertumbuhan pribadi anak. Ayah sebagai pendidik terutama menyangkut pendidikan yang bersifat rasional. Pendidikan mulai diperlukan sejak anak umur tiga tahun ke atas, yaitu saat anak mulai mengembangkan ego dan super egonya. Kekuatan ego (aku) ini sangat diperlukan untuk mengembangkan kemampuan realitas hidup yang terdiri dari segala jenis persoalan yang harus dipecahkan.
·         Ayah sebagai tokoh atau modal identifikasi anak :
Ayah sebagai modal sangat diperlukan bagi anak-anak untuk identifikasi diri dalam rangka membentuk super ego (aku ideal) yang kuat. Super ego merupakan fungsi kepribadian yang memberikan pegangan hidup yang benar, susila dan baik. Oleh karena itu seorang ayah harus memiliki pribadi yang kuat. Pribadi ayah yang kuat akan memberikan makna bagi pembentukan pribadi anak. Pribadi anak mulai terbentuk sejak anak itu mencari “Aku” dirinya. Aku ini akan terbentuk dengan balk jika ayah sebagai model dapat memberikan kepuasan bagi anak untuk identifikasi diri.
·         Ayah sebagai pembantu pengurus rumah tangga :
Pengurusan rumah tangga merupakan tanggung jawab ibu sebagai istri. Dalam perkembangan lebih lanjut maka ayah diperlukan sebagai pengelola kerumahtanggaan. Sebab keluarga merupakan lembaga sosial yang mengelola segala keperluan yang menyangkut banyak segi. Oleh karena itu ayah sebagai kepala keluarga juga ikut bertanggung jawab dalam jalannya keluarga sebagai lembaga sosial yang memerankan berbagai fungsi kehidupan manusia. Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa ayah mempunyai banyak peran (berperan ganda). Agar dapat melaksanakan peran ganda ini maka seorang ayah dituntut untuk bekerja keras, dan berpengetahuan yang memadai. Pengetahuan ini sangat diperlukan karena persoalan-persoalan kehidupan makin lama makin sulit dan kompleks.
2.5.2.                     PERAN IBU DALAM KELUARGA
Kartini Kartono (1977) menyebutkan bahwa fungsi wanita dalam keluarga sebagai berikut (1) sebagai istrl dan teman hidup (2) sebagai partner seksual (3) sebagai pengatur rumah tangga (4) sebagai ibu dan pendidik anak-anaknya, (5) sebagai makhluk sosial yang ingin berpartisipasi aktif dalam lingkungan sosial.
Sikun Pribadi (1981) menyatakan bahwa peranan wanita dalam keluarga adalah (1) sebagai istri (.2) sebagai pengurus rumah tangga (3) sebagai ibu dari anak-anak, (4) sebagai teman hidup dan (5) sebagai makhluk sosial yang ingin mengadakan hubungan sosial yang intim. Kedua pendapat tersebut ternyata dapat sama, hanya penempatan urutan dan kombinasi peran yang brbeda.
 Nani Suwondo (1981) menyatakan bahwa wanita dalam keluarga itu mempunyai panca tugas yaitu (1) sebagai istri (2) sebagai ibu pendidik (3) sebagai ibu pengatur rumah tangga (4) sebagai tenaga kerja (5) sebagai anggota organisasi masyarakat.
Jika ketiga pendapat tersebu kita bandingkan maka pendapat Nani Suwondo menambah satu peran. Wanita sebagai isteri. Ibu sebagai istri sekaligus sebagai seks partner bagi suami dan juga sebagai teman hidup bagi suami. Ibu sebagai isteri merupakan pendamping suami, sebagai sahabat dan kekasih yang bersama-sama membina keluarga sejahtera. Oleh karena itu di lembaga-lembaga pemerintah di mana suami bekerja maka ia akan menjadi anggota organisasi yang ada di tempat suami bekerja.
·         Wanita sebagai ibu pendidik anak dan pembina generasi muda : 
Ibu sebagai pendidik anak bertanggung jawab agar anak-anak dibekali kekuatan rohani maupun jasmani dalam menghadapi segala tantangan zaman dan menjadi manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa.
·         Ibu sebagai pengatur rumah tangga :
Ibu pengatur rumah tangga merupakan tugas yang berat. Sebab seorang ibu harus dapat mengatur segala peraturan rumah tangga. Oleh karena itu ibu dapat dikatakan sebagai administrator dalam kehidupan keluarga. Oleh karena itu ibu harus dapat mengatur waktu dan tenaga sescara bijaksana.
·         Ibu sebagai tenaga kerja :
Dalam perkembangan sekarang ini dapat dikatakan baik di desa maupun di kota tampak bahwa ibu juga berperan sebagai pencari nafkah. Di pasar, di kantor, di persawahan, ibu-ibu ikut berkerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Istri-istri yang bekerja memang sangat berat, sebab di samping mengurus keluarga dan mendidik anak masih harus mencari tambahan penghasilan. Akan tetapi juga banyak justru ibulah yang berfungsi pencari nafkah. Sebab penghasilan ibu lebih banyak dari penghasilan ayah. Oleh karena itu jika kedua-duanya bekerja, maka harus ada kesepakatan yang kuat dan bijaksana sehingga tidak menjadikan keluarga sebagai terminal bis yang selalu gaduh.
·         Ibu sebagai makhluk sosial :
Ibu sebagai makhluk sosial tidaklah cukup berfungsi (1) beranak, (2) bersolek, (3) memasak atau seperti predikat ibu di Barat ibu hanya mengurusi (1) anak, (2) pakaian, (3) dapur, (4) makanan saja.
 (Hardjito Notopuro, 1984, p.45). Ibu sebagai makhluk sosial perlu diberi peran dalam masyarakat dan lembaga-lembaga sosial dan politik. Di desa-desa ibu berperan aktif dalam PKK, baik sebagai anggota maupun sebagai pengurus, di kantor-kantor ia diberi kesempatan untuk mendampingi suami sebagai pengurus atau anggota Darma Wanita, Darma Pertiwi dan sebagainya. Ibu dengan tugas-tugas ini akan merasa puas dan banagia, jika semua tugas itu dapat dilaksanakan sebaik-baiknya.
2.5.3.                     Peran Nenek
Dalam kehidupan keuarga yang besar (extended family) biasanya bukan orang tua saja yang berperan dalam memberikan pendidikan terhadap anaknya, tetapi anggota keluarga yang lainpun turut berperan. Misalnya  seorang bibi yang diberi tuga suntuk mendidik keponakannya dikala orang tua anak tersebut sibuk bekerja, oleh karena itu masing-masing keluarga hendaknya berupaya melaksanakan peranannya dalam mempersiapkan anak agar menjadi manusia yang berguna baik bagi pribadinya , keluarganya, masyarakat dan bahkan lagi bangsa dan ukat manusia yang berguna bagi pribadinya, keluarga, masyarakat dan bahkan bagi bangsa vdan umat manusia serta sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.






Please, don`t see to result but please look at the process

okey guys, catatan kali ini, gua mau sharing semua unek-unek gua selama kuliah. Terutama gua mau curcor all about my home work. you know???? i can a college assigment.. ini bukan tugas yang menurut gua paling boros selama gua kuliah. Why? because this project, buat waktu tidur gua berkurang banget, hampir 4 x 24 jam gua gak tidur, cuman buat ngerjain nih tugas, and then buat tipis dompet, atm gua dan buat semua celengan "UMRAH" gua kebongkar gara-gara nih tugas. (harusnya gak boleh ngeluh sih, karena seorang muslim itu harus kuat ketika menghadapi segala ujian hidupnya) but it`s no time for it. Tugasnya itu adalah membuat buku bantal yang sangat interaktif dan buku tersebut harus  disesuaikan  untuk anak-anak usia pra sekolah  (it`s such as simple but it`s so hard for working or difficult "yah whatever"). And then, tugasnya itu di kasih waktu selama 3 minggu (i think it`s simple time for job but yaaahhh tak bisa di tuangkan dengan kata-kata) dan minggu pertama gua beresin tuh job, minggu pertama udah beres untuk buku tapi ketika  gua ngleiat job temen-temen itu ternyata lebih better dari gua... Okeh finally, gua rombak lagi dari awal tuh project. dan otomatis gua beli bahan-bahan lagi dari awal untuk tuh buku, satu minggu beres, and, WHAT HAPPEND? pas gua nyerahin tuh project, dengan harapan my lecture, no more comment. Tapi hanyalah sebuah  harapan. Yahh gua dapet komentar yang sangat-sangat pedas. waktu itu gua kumpulin sekitar jam 12.15 dan sekitar 10 menitan my lecture ngekomentarin tuh project, dan inti komentar project itu adalah gua harus rombak lagi tuh project dari awal banget (OH GOD, WHAT SHOULD I DO?) my ALLAH bless my lecture (amin) dan itt tuuh di kasih waktu sampai Ashar. Dan gua langsung maksimalin sesuai dengan waktu yang ada.  Penilaian dosen seni rupa ini antara projectnya diterima atau di reject (can you think?) so, gak ada kata remedial? Sampai gua bela-belain keujanan demi beli tuh bahan dan gua lupain tuh yang namanya MAKAN seharian. Ashar pun tiba, saking udah lelahnya pikiran, dan tenaga, gua udah pasrah dengan semuanya, dan saat itu juga gua kasiin tuh project yang udah gua kerjain. dan dari situ gua langsung balik ke rumah dengan keadaan cuaca hujan sangat deras, perjalanan yang macet,  kepala yang pening, dan perut yang berisik memiscall gua. Tapi itu semua gua syukuri.

------ Lanjut-----
Keesokan harinya gua dapet sms dari temen jarkoman, bahwa seluruh project kelas gua, bisa di ambil untuk di optimalisasi kan ! (kita ngerasa kita udah SANGAT OPTIMAL ) di sana semua orang bingung (nah loh) maksud di sini optimalisasi di lihat dari sudut pandang siapa? mahasiswa? kita ngerasa dan menilai satu sama lain it`s good jobs, dan udah maksimal tapi kalau di lihat dari  penilain sang dosen ? yah mungkin jika melihat hasil yah, maybe kita belum ada apa-apa wong dosennya bilang sendiri "saya sudah sering melihat karya-karya seniman yang sangat luar biasa dan lebih dari ini !" EAAA EAALAH jelas, hasil karya tangan orang yang gak ada basic sebni dengan hasil orang-orang yang profesional dalam bidangnya JELAS JAUH BANGET.
------ Lanjut ------
Di kasih waktu 4 hari untuk di OPTIMALISASIKAN KEMBALI TUH PROJECT ! okeh gua ulang yang keTIGA kalinya untuk di rombak dari awal, dan perombakan project ini adalah dimana detik-detik uang tabungan celengan yang buat umroh dan ATM sekarat.
Singkat cerita selama 4 hari itu gua cuman seharian gak istirahat. Dan hari ini adalah hari dimana project ini dikumpulkan, dan pas detik-detik terakhir dikumpulkan. APA YANG TERJADI?
Dosen itu bilang, project kalian akan saya masukan ke sini (sambil menunjuk tempat sampah yang kayanya udah niat beli buat SAMPAH PROJECT kita) kalau masih gak maksimal dan emang kayanya semuanya dimasukin ke tempat inni!!!!!! dan salah satu teman gua bertanya "TAPIKAN KITA UDAH BERUSAHA SEMAKSIMAL MUNGKIN PA? APA BAPA GAK COBA UNTUK MELIHAT PROSES PROJECT KAMI?" dan tau apa respon tuh dosen.... "SERET yah? sekarang saya yang berkuasa!!!"

Ada yah dosen kaya monster gitu?

tujuan pendidikan adalah memanusia kan manusia. TAPI ini?

April 11, 2013

Histories of April Moop


April Mop adalah sebuah perayaan hari kemenangan atas dibunuhnya ribuan umat Islam Spanyol oleh tentara salib yang dilakukan lewat cara-cara penipuan. Sebab itulah, mereka merayakan April Mop dengan cara melegalkan penipuan dan kebohongan walau dibungkus dengan dalih sekadar hiburan atau keisengan belaka.
Biasanya orang akan menjawab bahwa April Mop—yang hanya berlaku pada tanggal 1 April—adalah hari di mana kita boleh dan sah-sah saja menipu teman, orangtua, saudara, atau lainnya, dan sang target tidak boleh marah atau emosi ketika sadar bahwa dirinya telah menjadi sasaran April Mop. Biasanya sang target, jika sudah sadar kena April Mop, maka dirinya juga akan tertawa atau minimal mengumpat sebal, tentu saja bukan marah sungguhan.
Walaupun belum sepopuler perayaan tahun baru atau Valentine’s Day, budaya April Mop dalam dua dekade terakhir memperlihatkan kecenderungan yang makin akrab di masyarakat perkotaan kita. Terutama di kalangan anak muda. Bukan mustahil pula, ke depan juga akan meluas ke masyarakat yang tinggal di pedesaan. Ironisnya, masyarakat dengan mudah meniru kebudayaan Barat ini tanpa mengkritisinya terlebih dahulu, apakah budaya itu baik atau tidak, bermanfaat atau sebaliknya.
Perayaan April Mop berawal dari suatu tragedi besar yang sangat menyedihkan dan memilukan? April Mop, atau The April’s Fool Day, berawal dari satu episode sejarah Muslim Spanyol di tahun 1487 M, atau bertepatan dengan 892 H.
Sejak dibebaskan Islam pada abad ke-8 M oleh Panglima Thariq bin Ziyad, Spanyol berangsur-angsur tumbuh menjadi satu negeri yang makmur. Pasukan Islam tidak saja berhenti di Spanyol, namun terus melakukan pembebasan di negeri-negeri sekitar menuju Perancis. Perancis Selatan dengan mudah dibebaskan. Kota Carcassone, Nimes, Bordeaux, Lyon, Poitou, Tours, dan sebagainya jatuh. Walaupun sangat kuat, pasukan Islam masih memberikan toleransi kepada suku Goth dan Navaro di daerah sebelah barat yang berupa pegunungan. Islam telah menerangi Spanyol.
Karena sikap para penguasa Islam yang begitu baik dan rendah hati, banyak orang-orang Spanyol yang kemudian dengan tulus dan ikhlas memeluk Islam. Muslim Spanyol bukan saja beragama Islam, namun sungguh-sungguh mempraktikkan kehidupan secara Islami. Tidak saja membaca Al-Qur’an, namun bertingkah-laku berdasarkan Al-Qur’an. Mereka selalu berkata tidak untuk musik, bir, pergaulan bebas, dan segala hal yang dilarang Islam. Keadaan tenteram seperti itu berlangsung hampir enam abad lamanya.
Selama itu pula kaum kafir yang masih ada di sekeliling Spanyol tanpa kenal lelah terus berupaya membersihkan Islam dari Spanyol, namun selalu gagal. Maka dikirimlah sejumlah mata-mata untuk mempelajari kelemahan umat Islam Spanyol.
Akhirnya mereka menemukan cara untuk menaklukkan Islam, yakni dengan pertama-tama melemahkan iman mereka melalui jalan serangan pemikiran dan budaya. Maka mulailah secara diam-diam mereka mengirimkan alkohol dan rokok secara gratis ke dalam wilayah Spanyol. Musik diperdengarkan untuk membujuk kaum mudanya agar lebih suka bernyanyi dan menari daripada membaca Al Qur’an. Mereka juga mengirimkan sejumlah ulama palsu untuk meniup-niupkan perpecahan ke dalam tubuh umat Islam Spanyol. Lama-kelamaan upaya ini membuahkan hasil.
Akhirnya Spanyol jatuh dan bisa dikuasai pasukan salib. Penyerangan oleh pasukan salib benar-benar dilakukan dengan kejam tanpa mengenal peri kemanusiaan. Tidak hanya pasukan Islam yang dibantai, tetapi juga penduduk sipil, wanita, anak-anak kecil, orang-orang tua. Satu-persatu daerah di Spanyol jatuh.
Granada adalah daerah terakhir yang ditaklukkan. Penduduk-penduduk Islam di Spanyol (juga disebut orang Moor) terpaksa berlindung di dalam rumah untuk menyelamatkan diri. Tentara-tentara salib terus mengejar mereka. Ketika jalan-jalan sudah sepi, tinggal menyisakan ribuan mayat yang bergelimpangan bermandikan genangan darah, tentara salib mengetahui bahwa banyak muslim Granada yang masih bersembunyi di rumah-rumah. Dengan lantang tentara salib itu meneriakkan pengumuman, bahwa para Muslim Granada bisa keluar dari rumah dengan aman dan diperbolehkan berlayar keluar Spanyol dengan membawa barang-barang keperluan mereka.
Orang-orang Islam masih curiga dengan tawaran ini. Namun beberapa dari orang Muslim diperbolehkan melihat sendiri kapal-kapal penumpang yang sudah dipersiapkan di pelabuhan. Setelah benar-benar melihat ada kapal yang sudah disediakan, mereka pun segera bersiap untuk meninggalkan Granada dan berlayar meninggalkan Spanyol.
Keesokan harinya, ribuan penduduk muslim Granada keluar dari rumah-rumah mereka dengan membawa seluruh barang-barang keperluan, beriringan berjalan menuju ke pelabuhan. Beberapa orang Islam yang tidak mempercayai pasukan salib, memilih bertahan dan terus bersembunyi di rumah-rumah mereka. Setelah ribuan umat Islam Spanyol berkumpul di pelabuhan, dengan cepat tentara salib menggeledah rumah-rumah yang telah ditinggalkan penghuninya. Lidah api terlihat menjilat-jilat angkasa ketika mereka membakari rumah-rumah tersebut bersama dengan orang-orang Islam yang masih bertahan di dalamnya.
Sedang ribuan umat Islam yang tertahan di pelabuhan, hanya bisa terpana ketika tentara salib juga membakari kapal-kapal yang dikatakan akan mengangkut mereka keluar dari Spanyol. Kapal-kapal itu dengan cepat tenggelam. Ribuan umat Islam tidak bisa berbuat apa-apa karena sama sekali tidak bersenjata. Mereka juga kebanyakan terdiri dari para perempuan dengan anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Sedang para tentara salib telah mengepung mereka dengan pedang terhunus.
Dengan satu teriakan dari pemimpinnya, ribuan tentara salib segera membantai umat Islam Spanyol tanpa rasa belas kasihan. Jerit tangis dan takbir membahana. Seluruh Muslim Spanyol di pelabuhan itu habis dibunuh dengan kejam. Darah menggenang di mana-mana. Laut yang biru telah berubah menjadi merah kehitam-hitaman.
Tragedi ini bertepatan dengan tanggal 1 April. Inilah yang kemudian diperingati oleh dunia kristen setiap tanggal 1 April sebagai April Mop (The April’s Fool Day). Pada tanggal 1 April, orang-orang diperbolehkan menipu dan berbohong kepada orang lain. Bagi umat kristiani, April Mop merupakan hari kemenangan atas dibunuhnya ribuan umat Islam Spanyol oleh tentara salib lewat cara-cara penipuan. Sebab itulah, mereka merayakan April Mop dengan cara melegalkan penipuan dan kebohongan walau dibungkus dengan dalih sekedar hiburan atau keisengan belaka.
Bagi umat Islam, April Mop tentu merupakan tragedi yang sangat menyedihkan. Hari di mana ribuan saudara-saudaranya se-iman disembelih dan dibantai oleh tentara salib di Granada, Spanyol. Sebab itu, adalah sangat tidak pantas juga ada orang Islam yang ikut-ikutan merayakan tradisi ini. Siapapun orang Islam yang turut merayakan April Mop, maka ia sesungguhnya tengah merayakan ulang tahun pembunuhan massal ribuan saudara-saudaranya di Granada, Spanyol, 5 abad silam.
Jadi, perhatikan sekeliling Anda, anak Anda, atau Anda sendiri, mungkin terkena bungkus jahil April Mop tanpa kita sadari. (sa/berbagaisumber)



Maret 27, 2013

Ok

Okey, dimulai dengan ambisi yang kepengin ikutan lomba business plan. sampe-sampe bela-belain gak ikut pelantikan LDK di UIN Bandung and that worse nya lagi sampai - sampai cuti ngajar les, yah itu semua demi ngurusin proposal lomba business plan. Actually lombanya itu pertim nah setiap tim itu anggotanya bebas mau dari mana aja asa provided anggota tersebut merupakan mahasiswa yang sedang menempuh S1. All right i went straight took the decision untuk ajak teme-temen SMA aku yang saat ini masih kuliah di ITB, UNPAD dan POLMAN. aku lobby mereka singkat cerita mereka mau. dan akhirnya kami bertiga sepakat untuk ketemuan, untuk menyepakati bisnis apa yang nanti akan kita lombakan. And Finally, kita sepakat untuk merencanakan bisnis dalam bidang digital printing. After that, saya langsung buat tuh proposal dengan harapan hari itu juga beres. tapi apa mau di kata, ternyata samapai 3 minggu berlalu proposal tu belum rampung juga, pertama kita belum survei barang dan harga, kedua kita butuh patner yang sekiranya ahli dalam bidang desgner dan yang terakhir itu kita sama-sama sibuk sampai-sampai waktu buat ngerjain nih proposal ogah-ogahan. 

H-7 pengumpulan terakhir proposal ! okey, this is time for working this job... 2 hari dan 2 malam berturut-turut saya kerjain tuh proposal hingga keesokan harnya saya serahkan ke anggota yang lain. alhasil salah seorang dari anggota saya, mengcancelkan rencana tersebut. why? He worried that competition is of fraud because we are obliged to pay in advance. Yah saya hargai itu tapi di sisi lain saya kecewa, kenapa gak dari awal bilangnyaa !!!!

Maret 25, 2013

Silaturahmi Rohis Nasional


UNDANGAN
{FORUM ROHIS NUSANTARA}

"Mari kita bersinergi dalam acara Silaturahim Rohis Nasional, dengan mengikuti acara tersebut selain bertemu dengan teman baru antar Rohis, kita juga akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat Insya Allah. :)

HANYA 2 CARA MENDAFTAR* @SilatnasRohis :
1. SMS center 0896 3296 4546

ROHIS#Provinsi#Kota/Kab#Nama Sekolah#
Jumlah Delegasi#Jumlah Pendamping/Alumni#
Nama CP#Nomor CP

Contoh : ROHIS#Jawa Barat#Kab.Bandung Barat#SMAN 1 Lembang#5#2#Mustopa#081910299xxx

2. FORMULIR ONLINE
klik tautan berikut : https://docs.google.com/forms/d/1iNavzw94WvZP1K_4YMTshxn9FE2v6im5xQNoxDbVVvU/viewform

*Yang belum melakukan hal tsb, masih belum panitia anggap sebagai peserta.

Peserta @SilatnasRohis adalah perwakilan Rohis (Pengurus maupun Alumni), sehingga surat akan ditujukan kepada Rohis Sekolah yang bersangkutan.

Untuk mendapatkan Informasi Lengkap, Surat Undangan dan Dokumen-dokumen lainnya, silakan komen di http://www.facebook.com/photo.php?fbid=488739854517453&set=a.423093271082112.103253.422755034449269&type=1&theater

Maret 15, 2013

Jenis-jenis permainan dalam kegiatan kepramukaan penggalang


Dalam KolamPeralatan

Peralatan               : Sebatang kapurJumlah pemain     : bebasWaktu                     : biasanya 10-15 menitTujuan                    : - Melatih kecepatan/reflex                                  -   Sebagai unsure hiburanCara permainan   :-       Anak-anak berdiri membentuk lingkaran dan di depan mereka digambar garis dengan kapur.
-       Tiap anak harus menyentuh garis tersebut.
-       Bila ada perintah “diair”, maka tiap orang melompat dengan kedua kakinya bersama-sama, masuk ke garis lingkaran.
-       Bila perintahnya “didarat”, maka tiap anak melompat mundur. Perintah yang diberikan harus bervariasi, “diair, didarat, diair, diair”.
-       Satu atau dua orang anak akan melompat dan jelas mereka akan dikeluarkan. Permainan ini cukup popular dan menyenangkan.
 
Petani dan PencuriPeralatan :

Alat                      : Karet gelang atau tali, kantong kacang, atau potongan kain, atau agar kelihatan sungguhan, sebuah apel.Jumlah pemain             : bebasWaktu                             : 8-10 menitTujuan                            : Melatih kecepatan dan Unsur hiburanCara permainannya : Anak-anak membentuk lingkaran dan seorang anak, yang jadi pencuri disuruh keluar ruangan. Selagi ia diluar, seorang anak ditunjuk sebagai petani. Sebuah benda ditaruh di tengah lingkaran. Pencuri tadi datang dan berjalan diluar lingkaran. Ia boleh memasuki lingkaran dari mana saja dan mencuri benda itu. Petani harus menangkapnya pada saat pencuri menyentuh benda tersebut. Pencuri itu harus lari keluar dari lingkaran lewat jalan masuk tadi dan ia selamat bila ia dapat keluar tanpa tertangkap. Bila ia tidak tertangkap, maka petani itu harus jadi pencuri dan dipilh petani baru.


Permainan Mengenali Teman

Peralatan           : Kertas kosong, alat tulis untuk tiap pesertaJumlah Pemain : Berapa sajaWaktu                 : 10-12 menitTujuan                : - Saling mengenal secara lebih mendalam- Berani Mengungkapkan diri- Melatih kecerdasan.Cara pemainan : Pemimpin membagikan kertas kosong kepada semua peserta. Seluruh peserta lalu menulis data pribadi mereka (nama lengkap, data keluarga, status, sekolah/pekerjaan, hobi, alamat, dan sebagainya). Setelah itu kertas yang sudah terisi dikembalikan kepada pemimpin. Lalu pemimpin memberikan lagi secara acak kepada peserta. Pemimpin memberikan waktu 2-3 menit kepada para peserta untuk menghafal data pribadi kawannya itu. Kemudian pemimpin menunjuk kepada salah seorang peserta dan bertanya kepadanya tentang data pribadi yang ia terima. Peserta harus mampu menjawab pertanyaan pemimpin. Sementara itu yang memiliki data pribadi harus memperhatikan benar/tidaknya jawabannya.


ALL STAND UP

Teaching point 
  1. Memahami pentingnya fungsi orang lain dalam kesuksesan kerja regu
  2.  Memecah kebekuan (ice breaking) dengan saling bersentuhan fisik.
  3.  Memahami bahwa kekurangan anggota regu (terlalu gemuk atau terlalu kecil) bukan merupakan kendala untuk kinerja regu.
  4. Perencanaan strategis.
Lama permainan : 20 – 40 menit
Perlengkapan      : Peluit
Instruksi                :
1.   
Kegiatan di mulai dengan sepasang anggota regu duduk bertolak belakang di tanah dengan melipatkan kedua kaki ke arah dada. Kemudian mereka diminta untuk berdiri bersama dengan cara saling menekan punggung, tangan tidak usah berpegangan.
2.    Setelah sukses dengan cara yang pertama, sepasang peserta diminta duduk berhadapan, ujung kaki diletakkan saling bersentuhan dengan kaki masing-masing pasangan. Kemudian kedua tangan peserta saling berpegangan antar pasangan. Untuk berdiri peserta diminta menarik pegangan tangan.
3.    Setelah sukses dengan cara kedua, jumlah anggota ditambah dari dua jadi empat, enam, delapan dan seterusnya.
4.    Mereka dipersilakan mengatur strategi agar sama-sama bisa berdiri serempak.
Debriefing :

1. Teaching point yang dirasakan.

2. Faktor penunjang keberhasilan.

3. Perasaan setelah berhasil.
                                     
4. Implikasi terhadap regu.
Arung Jeram :

Tujuan :
1.    Kerja sama tim
2.    Kekompakan regu.
3.    Yang kuat membantu yang lemah.
4.    Menetapkan bersama trategi manajemen secara tepat.
5.    Menempatkan diri saat bertindak/ menjalankan tugas.
Alat :
1.    Tali besar ( diameter 4-5 cm/ seukuran tali Perahu ).( panjang tali sesuaikan dengan anggota regu yang bermain. )
2.    Kedua ujung tali di ikat dengan kuat.
Pelaksanan :
1.    Semua anggota regu duduk melingkar dengan kedua kaki menjulur ( selonjor ) ke dalam lingkaran.2. Tiap anggota regu kedua tangannya memegang tali, jarak antar anggota regu 0,5 – 1 meter. Jarak semakin rapat semakin baik.
Peraturan :
1.    Semua anggota regu berupaya untuk berdiri secara bersama-sama.
2.    Saat mencoba berdiri, kedua kaki/ lutut tidak boleh ditekuk ( Tetap Lurus ).
3.    Setelah dapat berdiri bersama, kemudian berupaya duduk bersama kembali.
4.    Diupayakan jangan ada peserta yang terjatuh.
Estafet Air. :
Tujuan :
1.    Kerja sama tim.
2.    Mengatur cara kerja yang efektif.
3.    Pembagian tugas/ menempatkan personil dengan tepat.
4.    Kekompakan antar anggota dan seluruh anggota regu.
Alat :
-       1 buah ember berisi air secukupnya.
-       1 buah gelas yang bagian bawahnya telah berlubang kecil.
-       1 buah botol plastic
Pelaksanaan :
-        Peserta duduk dengan posisi berbanjar.
-       Peserta paling depan bertugas mengambil air dan yang paling belakang bertugas menuangkannya dalam botol.
-       Gelas yang berisi air diberikan secara estafet kepada rekannya yang dibelakang melalui atas kepala.
Peraturan :
-       Lubang Gelas hanya boleh ditutup dengan jari tangannya saja.
-       Menggunakan batas waktu tertentu.
-        Botol yang berisi air terbanyak dengan batas waktu tertentu itulah pemenangnya
-       . Dapat menggunakan rival/ lawan bermain dengan regu lain.

Kalajengking.
Tujuan :
-       Kerja sama antar anggota maupun 1 tim.
-       Mengatur strategi
-       Kekompakan dalam 1 tim work.
-        Mengenali kekuatan/ kemampuan timnya dan kekuatan lawan.
Alat                  : Tidak ada
Pelaksanaan :
-        Tiap tim berangotakan 10 - 15 orang.
-        Anggota yang paling depan adalah kepala dan yang paling belakang adalah ekor.
-       Seluruh Anggota berpegangan pada pinggang anggota di depannya.
-       Selama bermain pegangan tidak boleh lepas.
Peraturan        :
1.    Tugasnya adalah Kepala Kalajengking ( Anggota Paling Depan ) harus berusaha memegangekor lawan ( anggota paling belakang lawan ).
2.    Yang Paling dahulu berhasil memegang ekor lawan dinyatakan sebagai pemenang.
3.    Apabila pada saat permainan ada peserta yang pegangannya putus atau lepas, tim / regu tersebut dinyatakan kalah.
4.    Ulangi 2-3 kali sampai ada yang benar benar jadi pemenangnya.
TITANC C
Teaching point :
1.    Membangun kebersamaan.
2.     Menunjukkan untuk kesuksesan regu diperlukan pengorbanan anggota regu.
3.    Perlunya anggota menyatu dengan tujuan kelompok.
4.    Pengaturan strategi dalam pemecahan masalah.
5.    Berfikir kreatif.
Lama permainan : 20 – 40 menit

Perlengkapan : selembar kain ukuran 1,5 m x 1,5 m.

Instruksi :
1.    Semua anggota regu diminta untuk berdiri di atas kain seakan-akan mereka berada dalam satu kapal yang akan tenggelam. Tidak ada bagian dari kaki yang berdiri diluar kain.
2.    Setelah mereka berhasil berdiri di atas kain dalam hitungan satu sampai lima, kemudian mereka diminta keluar dari kain. Selanjutnya mereka diminta memperkecil ukuran kain tempat berpijak dengan cara melipat kain. Setelah itu mereka diminta berdiri lagi di atas kain dengan persyaratan yang sama.
3.    Tujuan yang akan dicapai kelompok adalah kemampuan untuk berdiri di atas kain yang ukurannya sekecil mungkin.
Debriefing :
-       Pelajaran apa yang mereka peroleh ?
-       Apa persyaratan kesuksesan untuk mencapai ukuran terkecil ?
-       Perilaku apa yang harus ditunjukkan oleh anggota regu agar sukses ?

PICTURE PUZZLE

Teaching point :
1.    Membangun rasa saling percaya kepada sesama kawan.
2.    Kerja sama regu.
3.    Komunikasi yang efektif.
4.    Rasa percaya diri
Lama permainan : 30 – 60 menit

Perlengkapan :
Gambar yang dipotong-potong menjadi 15-20 bagian

Instruksi :
1.    Peserta dibagi dalam kelompok yang terdiri dari 5-6 orang, salah satunya menjadi pengamat (ditentukan sendiri oleh masing-masing kelompok).
2.    Tiap peserta dalam kelompok memperoleh satu gambar yang sudah dipotong-potong (kecuali pengamat), yang dijadikan satu dalam satu wadah/meja dengan potongan-potongan gambar peserta lain.
3.    Tugas masing-masing peserta menyusun kembali potongan-potongan gambar menjadi satu gambar yang utuh, dengan ketentuan :
a.    Jika memperoleh potongan gambar yang tidak diperlukan/tidak sesuai, peserta harus segera mengembalikan ke dalam wadah/meja agar peserta lain dapat mengambil jika cocok dengan gambar yang dimiliki;
b.    Tidak boleh meminta atau mengambil dari peserta lain, tetapi hanya boleh mengambil potongan gambar dari wadah/meja;
c.    Tidak boleh saling berbicara, berkomunikasi dengan isyarat ataupun campur tangan dalam pekerjaan peserta lain.
4.     Tugas pengamat dalam setiap kelompok mengamati dan mencatat apa yang terjadi padak kelompoknya selama permainan berlangsung dengan memperhatikan hal-hal berikut :
a.    Adakah peserta yang melanggar peraturan ?
b.    Peraturan mana yang dilanggar ?
c.    Mengapa peraturan itu dilanggar ?
d.    Adakah peserta yang menumpuk banyak potongan gambar dan tidak mau mengembalikan ke wadah/meja ?
Ulangi permainan ini dengan ketentuan, peserta boleh berkomunikasi dan saling membantu dalam kelompoknya.

Debriefing :
1.    Apa kesulitan peserta dalam menyusun gambar ?
2.     Bagaimana cara mereka mengaplikasikan pengalaman pada kehidupan ?